5 Manfaat Menjaga Ketepatan Waktu

Oleh: Chyntia Aryanti Mayadewi (16/01/2017)

Dalam kehidupan sehari-hari, apakah anda pernah menemui orang yang tidak menjaga ketepatan waktunya dalam mengerjakan pekerjaan? Atau bahkan itu adalah diri anda sendiri? Taukah anda bahwa tidak pandainya seseorang dalam menjaga ketepatan waktunya dapat menurunkan kredibilitasnya dalam kelompok? Bahkan orang tersebut dapat memperoleh kerugian yang berdampak pada dirinya sendiri, yaitu kerugian kehilangan waktu. Tentu hal ini tidak ingin kita alami, bukan? Untuk mencegah terjadinya hal tersebut, yuk kita pahami 5 manfaat yang kita peroleh apabila menjaga ketepatan waktu kita dalam mengerjakan  pekerjaan.

  1. Waktu adalah amanah dari Allah SWT.

”Tidak bergeser kaki kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat, hingga ditanya tentang empat perkara, tentang umurnya untuk apa dihabiskan, ilmunya bagaimana dia amalkan, hartanya dari mana ia dapatkan dan untuk apa ia belanjakan dan tentang tubuhnya bagaimana dia memanfaatkanya.” (HR. at-Tirmidzi, dan menurut beliau derajatnya hasan shahih)

Berdasarkan hadits di atas, dapat kita pahami bahwa waktu yang kita miliki sekarang akan dipertanyakan oleh Allah di yaumul akhir.

 

  1. Menunjukan sifat itqon dalam bekerja.

Itqon atau profesionalitas merupakan suatu modal bagi seseorang untuk sukses dunia dan akhirat dalam mengemban amanahnya. Mengapa di dunia dan akhirat? Karena di dunia ia memperoleh kepercayaan dari orang lain dan manfaat dari efektivitas dan efisiensi pekerjannya sehingga dapat menguntungkannya. Sedangkan di akhirat nanti, dapapt memperoleh pahala dan berkah Allah karena sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang melakukan tugasnya dengan baik. Pada Al-Qur’an surat Al-Mulk ayat 2, Allah bersabda, “(Dia) Yang menjadikan mati dan hidup supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya (optimal). Dan, Dia Mahaperkasa lagi Maha Pengampun”.

 

  1. Menunjukkan kecerdasan dan kepandaian seseorang.

Berangkat dari hadits Rasulullah Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam yang berbunyi,  “Yang paling banyak mengingat mati, kemudian yang paling baik dalam mempersiapkan kematian, itulah orang yang paling cerdas (HR Ibnu Majah, Thabrani dan Al Haitsami). Dari sini lah dapat kita ambil hikmahnya bahwa orang yang cerdas adalah orang yang kemampuan mimpi dan manajemennya melampaui batasan mata. Maksudnya adalah orang tersebut dapat memprediksi hal-hal yang kemungkinan pasti akan terjadi pada dirinya. Pada konteks menjaga ketepatan waktu, orang yang melaksanakan tugas meleset dari waktunya pasti sebetulnya tau konsekuensi yang akan diterimanya atas apa yang telah ia lakukan. Sedangkan pada orang yang mengerjakan pekerjaannya tepat waktu, pasti sebelumnya telah mengetahui hal-hal apa saja yang harus dipersiapkan untuk menunjang pekerjaannya dan berapa lama tugas tersebut dapat diselesaikan. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa orang yang menjaga ketepatan waktunya adalah orang yang cerdas dan pandai karena ia mampu mengelola waktu yang ia punya dan menyelesaikan tugasnya dengan baik.

 

  1. Menjaga kualitas pekerjaan tersebut.

Percayakah anda bahwa waktu yang anda gunakan dalam mengerjakan pekerjaan anda berkaitan erat dengan kualitas pekerjaan itu sendiri? Menurut Uqshari (2005), ketepatan waktu sama pentingnya dengan pelaksanaan kerja itu sendiri. Tips-tips untuk mencapai ketepatan waktu demi tercapainya kualitas pekerjaan yang baik menurut Uqshari (2005) adalah dengan memberikan kontribusi atau fokus yang sama pada pekerjaan yang besar maupun kecil. Karena pekerjaan kecil pun sejatinya adalah amanah yang kelak harus kita pertanggungjawabkan. Selanjutnya, kita harus mengetahui batas waktu pengerjaan sehingga kita dapat mengontrol kapan tugas tersebut harus diselesaikan. Selain itu, dibutuhkan konsistensi, keuletan, semangat dan kekuatan untuk menyelesaikan pekerjaan. Karena menyelesaikan pekerjaan jauh lebih sulit daripada memulai suatu pekerjaan.

 

  1. Menjaga seseorang tercapai dalam menggapai cita-citanya.

Untuk mencapai cita-cita tentulah dibutuhkan berbagai macam upaya agar seseorang sampai kepada tujuannya. Mengerjakan pekerjaan tepat pada waktunya dapat menjaga seseorang untuk fokus kepada tujuannya, bukan semata-mata pada tugas yang ia kerjakan. Saat mengerjakan tugas, ia paham bahwa tugas yang ia kerjakan adalah kendaraan yang membuatnya sampai pada tujuan. Oleh karena itu, ia harus segera menyelesaikan tugasnya tersebut agar dapat beralih ke tugas lainnya sehingga ia dan titik tujunya tidak lagi terpisah jauh.

 

Penjabaran 5 poin di atas tentang manfaat menjaga ketepatan waktu adalalah sebagian dari masih banyaknya lagi poin-poin yang belum disebutkan. Yang pasti, menjaga ketepatan waktu memiliki banyak manfaat yang hendaknya diaplikasikan oleh tiap muslim agar amanah yang ia peroleh dapat menghasilkan output yang baik.

 

Sumber:

 

“Kumpulan Hadits : Bagaimana Memanfaatkan Waktu”. SalamDakwah. N.p., 2017. Web. 16 Jan. 2017.

 

Uqshari, Yusuf Al. Wujudkan Mimpi Anda. 1st ed. Depok: Gema Insani, 2005. Print.

Allah…

Pagi ini aku mendapat message di grup whatsapp angkatanku. Salah satu dari temanku mengabarkan bahwa Ayahnya meninggal dunia.

Aku sendiri tidak pernah mendengar apakah beliau sebelumnya memiliki riwayat sakit atau tidak. Yang aku tau adalah temanku ini cukup sering becerita tentang cerita-cerita lucu di keluarganya, pun aku juga suka bertukar cerita dengannya. Aku mendapatkan gambaran bahwa keluarganya pastilah keluarga yang hangat.

Tapi buatku kehilangan orangtua adalah suatu hal yang besar. Untuk membayangkannya saja aku tidak pernah sanggup. Aku takut kalau aku belum mampu membahagiakan mereka. Aku takut belum sempat mengajak mereka jalan-jalan keluar negeri, mengajak mereka mencicipi makanan terbaik di dunia, atau sekadar membuat mereka bangga dengan apa yang aku lakukan. Ah masih banyak hal yang belum aku lakukan.

Kini usiaku 20 tahun. Dan kedua orangtuaku mulai memasuki usia kepala lima. Adalah sebuah kerugian besar apabila aku tidak mampu memaksimalkan masa ini.

Izinkan lah ya Allah.. Izinkan lah aku bias menjadi penyejuk hati di mata kedua orangtuaku dan menjadi salah satu penyebab mereka berdua masuk ke surga-Mu, ya Rabb.

 

Semangat!

Disaat lagi demot karena tugas dan rutinitas sehari-hari, ngeliat video ini jadi mengingatkan kembali bahwa semangat dan kerja keras fi sabilillah pada suatu hari akan berujung pada kemenangan!

Dimanapun kita, apapun yang kita lakukan, bidang apapun yang kita tekuni, semoga semuanya terintegrasi dengan kebaikan. Hingga kelak jerih payah kita bisa menjadi salah satu puzzle kejayaan ummat. 🙂

Bismillah.

Tidak

Tidak. Yang salah dari hari kemarin adalah caranya. Bukan substansinya.

Jangan salahkan hal tersebut. Karena ia adalah cobaan sekaligus hadiah untukmu. Setiap orang memiliki jalan hidupnya masing-masing. Beruntunglah kamu yang dipilihkan Allah jalan hidup yang berisi kebaikan di dalamnya.

Syukurilah. Maknailah. Perjuangkanlah.

Jangan buat kebaikan berbalik menjadi keburukan di tanganmu. Tapi berusahalah sekeras mungkin agar kebaikan tersebut menyerbak dan memenuhi ruang.

Dari Fadhil..

Sedikit bercerita tentang hari ini.

Banyak hal yang aku lalui hari ini. Bertemu dosen, teman-teman, adik-adik 2016, ramainya jalanan. Namun hikmah yang paling ngena di hati adalah saat mampir ke rumah uncle dan ketemu Fadhil. Fadhil adalah salah satu adik sepupuku yang masih berumur sembilan tahun. Dari kecil dia suka berkomentar yang to the point tapi ngena di hati. Contohnya adalah hari ini dia cerita kalau tadi di sekolahnya dia ga diizinin beli pempek karena kata orangtuanya, abang yang jualan terlihat kurang bersih. Trus dia baru tadi bilang kalo ga suka di larang-larang beli pempek, karena menurutnya kasihan kalo ngga di beli. Katanya, kalau kita membeli pempek jualan si abang itu, sama aja kita membantu penghasilannya.

Yak, kalimatnya hampir persis kayak gitu. Seinget saya waktu saya umur sembilan tahun ga sebijak ini deh :”

Saya merasa kalau pandangan Fadhil ini bener banget. Saya jadi mikir, andaikan orang-orang (yang katanya udah) dewasa masih punya sikap dan cara pandang kayak dia, pasti dunia adem deh. Karena sebetulnya, setiap orang memiliki kecenderungan untuk berbuat baik. Namun seringkali, di dunia yang hingar bingar ini, kebaikan yang kecil itu tertutupi dan dianggap remeh. Juga, kepekaan terhadap orang lain mulai berkurang saat ini. Mungkin karena tiap orang sibuk mengejar apa yang ia cari. Hingga lupa bahwa hal yang hakiki untuk dicari adalah amal kebaikan. Ah, jangan-jangan kita sendiri yang berbuat seperti itu.

**

Cerita polos dari seorang anak SD yang imut & lucu ini jadi pelajaran tersendiri buat aku. Agar lebih peka dan lebih ringan tangan lagi dengan sesama :”)

Display UKM Salam UI 2016

Masih tentang OKK UI 2016. Ini adalah video display UKM Salam UI 2016. Tahun lalu aku ada di salah satu barisan itu. Sekarang agak sedih karena tahun ini aku ngga ada disana 😥 ngga menyapa mahasiswa baru 2016 dengan takbir di ruangan terfavorit di UI, Balairung.

DIsplay UKM Salam UI buat aku selalu jadi momen yang bersejarah. Mungkin karena setiap tahunnya ada orasi dari ketua Salam UI. Ah iya. Disana juga nuansa persaudaraan Islam antar fakultasnya berasa banget. Seru deh pokoknya 😀

Bertumbuhlah, Berkembanglah

.. lah lamo awak indak basua jo wordpress ni. taragak lah den..

Bismillahirrahmanirrahiim

Sedikit intro berupa curhatan dalam bahasa Minang yang dimaksudkan untuk mengutarakan rasa kangen yang banget banget sama blog. Akhir-akhir ini jarang nulis. Tapi bismillah semoga kedepannya bisa rajin nulis lagi yeaaay.

Sekarang itu lagi ngehits banget sama yang namanya OKK UI. Aku tertarik buat jadi mentor yang notabene baru tahun ini dibikin ada mentor. Hm jadi inget kampus tosca di seberang sana yang udah dari lama pake mentor di ospek universitasnya. Lalu kenapa UI baru pake mentor? Aku sendiri juga belum tau kenapa. Tapi yang jelas, mentor dimaksudkan untuk menghidupkan kembali ruh pergerakan mahasiswa yang dikhawatirkan lesu dimakan zaman Tapi selama masih ada orang-orang yang memiliki hati yang tulus, pikiran yang lurus, serta tangan dan kaki yang ringan untuk digerakkan dalam kebaikan, maka insyaa Allah ruh pergerakan tersebut tidak akan pernah mati. Karena sejatinya tujuan dari pergerakan adalah untuk menciptakan dan meningkatkan kesejahteraan Indonesia.

Seringkali idealisme dikaitkan dengan aksi turun ke jalan. Tapi, menurutku definisi idealisme itu luas. Idealisme harusnya tetap ada di jiwa tiap pemuda dan menjadikannya ruh dalam beraktivitas. Sehingga apapun yang ia lakukan, memiliki standar kebaikan yang jelas dan berada dalam jalan yang lurus.

Tentu bukan perkara yang gampang untuk mentransfer idealisme dan semangat tersebut kepada adik-adik kami, mahasiswa baru 2016. Tapi, melalui mentor OKK ini saya merasakan bahwa usaha mentransfer hal tersebut tidak sia-sia. Saya bertemu dengan 15 orang mahasiswa baru dengan bermacam-macam latar belakang dan sifat yang unik. Mereka adalah para mutiara Indonesia, sebuah sebutan spesial dari OKK UI untuk mahasiswa UI 2016. Maka untuk mutiara-mutiara itu, tak apalah kami sampaikan idealisme dan cita-cita kami sebagai insan akademis yang setinggi-tingginya. Bahwa berkuliah itu bukan hanya tentang diri sendiri, tapi juga tentang berkontribusi kepada masyarakat. Mungkin secara ringkasnya, harusnya setiap mahasiswa melaksanakan tridharma perguruan tinggi.

 

Ah, aku sendiri juga masih berusaha untuk mewujudkan tridharma tersebut. Bahkan orang yang pertama kali tertampar keras dengan muatan mentoring OKK UI sebetulnya adalah diriku sendiri. Banyak to-do list mimpi-mimpi yang masih perlu diperjuangkan. Setelah sesi mentoring, aku justru ikut merasa tercerahkan dan semangat kembali full. Kadang memang idealisme dan cita-cita bisa menguap dengan rutinitas hidup yang biasa saja. Padahal sejatinya kita tidak dilahirkan untuk menjadi biasa-biasa saja. Setiap dari diri kita adalah spesial. Tugas selanjutnya adalah mengasah diri kita agar spesialisasi tersebut meningkat menjadi taraf profesional. Tentu saja agar dapat bermanfaat bagi orang lain.

Maka, aku menyimpulkan bahwa menjadi mentor adalah pengalaman yang luar biasa. Menjadi mentor adalah gabungan dari seni berinteraksi, seni memahami orang lain, dan tentu saja seni menyampaikan idealisme dan cita-cita dengan penyampaian yang ringan. Dan mungkin ditambah dengan seni memupuk cita-cita dan harapan pada orang lain. Agar kelak ia dapat bertumbuh menjadi seseorang yang teduh dan bermanfaat bagi sekelilingnya.

Tumbuh dan berkembanglah, para mutiara Indonesia 🙂